Headlines News :
Home » , » Kisah Menyedihkan Buang Air Melalui Perut Selama 7 Tahun

Kisah Menyedihkan Buang Air Melalui Perut Selama 7 Tahun


Yuni Astuti (15), terbaring di ruang nomor 107 Theresia 1 RS Elisabeth Semarang ditemani boneka kelinci biru kesayangannya. Ia mensyukuri kondisinya yang mulai membaik setelah 7 tahun menderita usus buntu. Meski demikian, hingga kini, untuk buang air Yuni harus dibantu dengan alat melalui perutnya.

Ibu Yuni, Sumiayem (40) warga Pringsurat, Kabupaten Temanggung menuturkan sebelum masuk ke RS Elisabeth atau sekitar 7 tahun lalu, putrinya mendadak susah buang air dan perutnya membuncit. Ia pun segera melarikan Yuni ke RS di Yogyakarta.

"Kata dokter usus besarnya tersumbat. Lalu dilakukan operasi," kata Sumiayem di ruang Theresia RS Elisabeth, Semarang, Jumat (9/11/2012).

Namun operasinya itu ternyata gagal. Lalu pihak RS langsung melakukan tindakan dengan mengoperasi Yuni untuk kedua kalinya. Ternyata operasi juga tidak membuahkan hasil dan meninggalkan bekas luka di perut Yuni.

"Saya enggak ngerti, katanya gagal karena paru-paru basah. Anak saya jadi trauma," ujar Sumiayem sambil mengusap air matanya yang mulai keluar.

Yuni sempat dirawat empat bulan di ruangan bangsal. Tapi karena tidak kuat menanggung biaya, orangtua Yuni memilih untuk merawatnya di rumah.

"Ayahnya Soeharto hanya buruh tani sedangkan saya menganggur mengurus anak saya yang sakit ini," kata Sumiayem lirih.

Selama dirawat di rumah, Yuni buang air melalui bekas operasi di perutnya dan ibunya menyeka sisa kotoran yang tertinggal di perut Yuni. Hal itu dijalani keluarga Sumiayem selama 7 tahun. Selama itu pula perut Yuni hanya ditutup kemben agar luka operasi tidak terlihat.

"Sejak sakit, anak saya berhenti sekolah. Berarti sejak kelas dua SD di SD Pringsurat 01 saat umurnya masih 8 tahun," ujarnya.

Tidak tahan melihat anaknya yang terus menderita, Sumiayem membawa Yuni untuk berobat di RS Sultan Agung Semarang. Dari pengobatan di RS Sultan Agung, Yuni dibuatkan saluran berupa Tuba Kolostomi yang membuatnya bisa buang air lewat perut sebelah kanan.

"Dibuatkan Tuba Kolostomi. Tapi kemudian anak saya dirujuk ke RS Elisabeth 29 Oktober lalu karena peralatan di RS Sultan Agung belum ada," tandasnya.

Di RS Elisabeth Yuni akan dirawat dan rencananya akan dibuatkan saluran dari usus hingga dubur agar ia bisa buang air dengan normal dan sembuh dari penyakit yang diderita sejak tujuh tahun lalu itu.

"Saya ingin agar anak saya bisa sembuh total. Dia juga ingin sekali melanjutkan sekolah. Mungkin nanti pakai kejar paket," kata Sumiayem.

"Selama ini dia sering melamun, tapi saat ditanya dia menjawab tidak apa-apa. Mungkin karena takut saya menjadi khawatir," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Humas RS Elisabeth, Probowati Tjondronegoro mengatakan, pihaknya tidak akan mempermasalahkan biaya tapi lebih menitikberatkan kualitas perawatan untuk Yuni terlebih dahulu.

"Akan kami rawat semaksimal mungkin. Untuk biaya belum bisa dibicarakan, kita lihat dulu perawatannya sejauh mana," kata Probo.

Saat ini Yuni dirawat di ruang nomor 107 Theresia 1 dan dijaga bergantian oleh orangtuanya. "Sudah agak baikan sekarang," kata gadis berambut panjang tersebut dengan terkulai lemas di kasur tempatnya dirawat.

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Find Us On Facebook

Recent Post

Followers

Banner Iklan

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Lintas Beranda - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger