Bambang Pamungkas akhirnya memilih membela Timnas Indonesia
versi PSSI Djohar Arifin jelang turnamen Piala AFF 2012. Keputusan Bepe ini
bisa menimbulkan beragam persepsi. Namun, ia punya penilaian sendiri.
Masalah dualisme Timnas Indonesia masih terjadi. Timnas
versi Djohar Arifin dan Timnas versi La Nyalla Mattalitti sama-sama mengirimkan
pemainnya untuk bertanding di Piala AFF 2012 Malaysia-Thailand.
Namun, AFF akhirnya memilih Timnas Indonesia versi Djohar
Arifin untuk bertanding di kejuaraan antar negara ASEAN tersebut. Meski Bepe
bermain di Liga Super Indonesia (ISL), ia memutuskan untuk bergabung dengan
Timnas Indonesia yang dibesut Nil Maizar itu.
Padahal, ISL melarang para pemainnya untuk memperkuat Timnas
Indonesia versi Djohar Arifin tersebut.
"Setiap orang tentu memiliki pemikiran dan keyakinan
masing-masing, dalam menanggapi serta menyikapi permasalahan ini, begitu juga
para pemain tersebut. Masyarakat bisa saja memiliki pendapat yang beraneka
ragam, karena mungkin tidak semua orang mengerti dan paham dengan pokok
permasalah yang sebenarnya terjadi. Atau bisa jadi mereka juga akan melakukan
hal yang sama, ketika mereka berada di posisi seperti pemain-pemain
tersebut," ujar Bepe, dalam situs pribadinya, bambangpamungkas20.com.
"Menurut pandangan saya pribadi, silakan jika ada yang
berpedapat lain. Nasionalisme itu ketika kita mempunyai kesempatan untuk
melukai bangsa kita sendiri, tetapi kita memutuskan untuk tidak melakukannya,
padahal tidak akan ada siapapun yang mengetahui tindakan kita. Atau ketika kita
mampu melakukan sesuatu atas nama bangsa dan negara, tanpa harus menyebar
luaskannya kepada khalayak ramai. Bagi saya itu adalah arti rasa nasionalisme,
dan konteksnya bisa menjadi sangat luas," katanya.
"Orang-orang yang rajin serta selalu berdiri di baris
paling depan saat mengikuti upacara bendera hari Senin, belum tentu taat
membayar pajak. Mereka-mereka yang dengan serta merta berdiri tegak dengan
sikap hormat, setiap mendengar lagu kebangsaan terdengar, belum tentu tidak
korupsi. Kita-kita yang memiliki nada dering Indonesia Raya serta avatar ponsel
lambang garuda, belum tentu tidak membeli CD atau DVD bajakan," ia
menambahkan.
"Artinya, kita semua bisa saja menjadi seseorang yang
nasionalis dan tak nasionalis dalam waktu yang bersamaan. Nasionalisme itu
seperti iman, seberapa besar iman seseorang, hanya orang tersebut yang tahu.
Demikian juga nasionalisme seseorang, rasa cinta terhadap tanah air itu ada di
dalam hati sanubari kita masing-masing. Dan seberapa besar itu.? Hanya kita
yang tahu."

0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !